Rabu, 29 Juli 2009 | 16:39 WIB

*KOMPAS.com – *Anggapan bahwa kecerdasan anak hanya dapat diturunkan 
oleh orangtua yang juga cerdas, tampaknya harus diubah. Dengan gizi dan 
stimulasi yang tepat Anda pun bisa mencetak anak cerdas dan kreatif.

Penelitian menunjukkan bahwa sumbangan faktor genetis terhadap 
intelegensi seseorang berkisar 40-80 persen. “Kita tidak bisa mengukur 
berapa persentasi kecerdasan yang diturunkan. Yang pasti anak yang 
cerdas pun harus distimulasi kemampuan berpikirnya agar kecerdasannya 
muncul,” kata psikolog Roslina Verauli.

Namun bila Anda merasa kecerdasan Anda tergolong rata-rata, tak perlu 
khawatir nantinya si kecil otaknya kurang “encer”. Pasalnya ada faktor 
lain yang tak kalah penting dalam kecerdasan anak, yakni gizi dan pola 
asuh orangtua (lingkungan) .

Gizi yang baik ibarat bahan bakar bagi otak. Perkembangan sirkuit otak 
sangat bergantung pada kualitas nutrisi dan stimulasi yang diberikan 
pada balita sejak dalam kandungan sampai usia tiga tahun pertama, atau
disebut masa emas pertumbuhan (golden age period).

Cepatnya pertumbuhan sel otak manusia pada usia bayi hingga usia tiga 
tahun dan mencapai kesempurnaannya di usia lima tahun, membuat faktor 
pemenuhan gizi sebagai faktor yang vital.

“Sampai umur setahun, 60 persen energi makanan bayi digunakan untuk
pertumbuhan otak,” kata dr.Soedjatmiko, Sp.A (K), dokter spesialis anak
konsultas tumbuh kembang. Oleh karena itu bayi dan balita membutuhkan 
banyak protein, karbohidrat, dan lemak.

Selain itu bayi dan balita membutuhkan vitamin B1, B6, asam folat, 
yodium, zat besi, seng, AA, DHA, /sphyngomyelin /(kompleks lipid 
kandungan lemak di otak), sialic acid, dan asam-asam amino seperti/ 
tyrosine /dan/ tryptophan/.

“ASI mengandung semua kebutuhan tersebut, termasuk AA, DHA,” kata 
Soedjatmiko, yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acara Smart 
Parent Conference yang diadakan oleh Frisian Flag di Jakarta beberapa 
waktu lalu ini.

Dengan nutrisi yang seimbang, makin banyak jumlah sel-sel otak bayi. 
“Makin banyak kualitas percabangan sel-sel otak, makin bagus fungsi 
sinaps (ujung sel saraf) antara sel-sel otak, makin cerdas seorang 
anak,” ujar Soedjatmiko.

*Stimulasi tepat*

Mengingat pentingnya periode emas ini dalam masa perkembangan anak, 
orangtua dan guru perlu memberikan stimulasi yang cukup bagi anak. 
Karena hanya dengan stimulasi, perkembangan kognisi, sosial dan emosi 
anak bisa mencapai tahap yang optimal.

Merangsang kecerdasan anak sudah bisa dilakukan sejak dini, bahkan sejak 
dalam kandungan terus menerus setiap hari dengan stimulasi yang 
bervariasi dan teratur, dengan merangsang otak kiri dan otak kanan 
bersama-sama.

“Stimulasi akan memengaruhi pertumbuhan sinaps yang membutuhkan sialic 
acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses 
pembelajaran dan memori,” lanjut Soedjatmiko.

Selain itu, rangsangan yang bervariasi dan dilakukan dengan kasih sayang 
akan melipatgandakan jumlah hubungan antar sel otak sehingga membentuk 
sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat, sehingga kecerdasan 
anak semakin tinggi dan bervariasi (multiple inteligence) .

Menurut Roslina Verauli, untuk memberikan stimulasi yang tepat orangtua 
harus peka terhadap kemampuan anak. “Ajak anak bermain sesuai dengan 
minatnya. Ajak pula anak melihat berbagai tempat, jangan hanya ke mal 
saja,” kata psikolog yang akrab di sapa Vera ini.

Vera juga menyarankan agar orangtua memberikan tempat tinggal yang kaya 
fasilitas penunjang kecerdasan, seperti adanya buku- buku, alat musik, 
juga halaman tempat anak bermain. “Bila tak punya halaman, sesekali ajak 
anak ke lapangan atau taman publik,” cetusnya.

Terakhir adalah stimulasi berupa pendidikan dan pelatihan yang memadai. 
“Selain sekolah, ikutkan anak pada kegiatan eskul. Tapi bukan les 
matematika, melainkan yang berkaitan dengan minat anak. Bila dua tahun 
tidak ada perkembangan, stop, ganti dengan eskul lain,” ujar psikolog 
yang sering menjadi narasumber di berbagai media ini.

http://kesehatan. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/29/ 16395973/ Anak.Cerdas. Bukan.Karena. Keturunan

Advertisement